Rute Ziarah Wali Songo Jatim ke Jabar: Urutan Paling Efisien

afmerida.org – Pernahkah Anda merasa butuh “charger” spiritual setelah lelah digempur rutinitas duniawi yang tak ada habisnya? Bagi jutaan umat Muslim di Indonesia, jawabannya seringkali bukan liburan mewah ke luar negeri, melainkan sebuah perjalanan darat menyusuri pesisir utara Pulau Jawa. Ya, kita bicara soal Wisata Religi Wali Songo.

Ini bukan sekadar jalan-jalan melihat kuburan tua. Ini adalah napak tilas sejarah penyebaran Islam di Nusantara yang penuh dengan nilai budaya, arsitektur, dan tentu saja, aroma wewangian bunga serta dupa yang khas. Namun, tantangan terbesarnya seringkali adalah logistik. Dengan sembilan lokasi yang tersebar di tiga provinsi, salah mengatur rute bisa membuat Anda tua di jalan.

Jika Anda berdomisili di timur atau ingin memulai perjalanan dari arah “terbitnya matahari”, menyusun Urutan Rute Ziarah Wali Songo dari Jawa Timur ke Jawa Barat adalah strategi paling masuk akal. Selain mengikuti alur penyebaran Islam yang masif di pesisir, rute ini memudahkan Anda mengelola stamina. Mari kita bedah rute efisiennya agar perjalanan Anda berkah tanpa harus berakhir dengan encok yang parah.


Titik Awal: Surabaya dan Gresik, Jantungnya Jawa Timur

Perjalanan ideal dimulai dari Surabaya. Di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan ini, terdapat makam Sunan Ampel (Raden Rahmat). Kawasan Ampel adalah melting pot budaya Arab dan Jawa yang kental. Bayangkan Anda berjalan di lorong pasar yang sempit namun hidup, dikelilingi pedagang kurma dan minyak wangi, sebelum sampai ke area masjid yang agung.

Data: Kompleks makam Sunan Ampel adalah salah satu yang terpadat. Tips pro: datanglah di sepertiga malam jika ingin suasana yang lebih khusyuk, atau siap-siap berdesakan jika datang di akhir pekan.

Hanya berjarak sekitar satu jam dari Surabaya, kita melipir ke Gresik. Di sini ada dua wali sekaligus: Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) dan Sunan Giri (Raden Paku). Sunan Gresik sering dianggap sebagai “bapak” dari para Wali Songo, sementara makam Sunan Giri terletak di atas bukit. When you think about it, posisi makam di atas bukit ini simbolis, menggambarkan kedudukan beliau yang tinggi sebagai “Paus-nya Islam Jawa” pada masa itu yang bahkan memiliki pengaruh politis untuk melantik raja-raja.

Menyusuri Pantura: Lamongan dan Tuban

Melanjutkan perjalanan ke arah barat menyusuri Jalan Daendels (Pantura), Anda akan tiba di Lamongan. Di sini bersemayam Sunan Drajat (Raden Qasim). Beliau dikenal dengan filosofi sosialnya yang sangat tinggi: Wenehana mangan marang wong kang luwe (Berilah makan kepada orang yang lapar).

Insight: Kompleks makam Sunan Drajat kini telah dipugar dengan sangat apik dan memiliki museum khusus. Ini adalah tempat yang tepat untuk belajar bahwa Islam masuk ke Nusantara bukan dengan pedang, melainkan dengan kepedulian sosial dan kesenian.

Lanjut ke Tuban, kota pelabuhan kuno. Di sini ada makam Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim). Lokasinya sangat strategis di belakang Masjid Agung Tuban dan dekat alun-alun. Sunan Bonang adalah seniman ulung yang menggunakan gamelan (gending Bonang) untuk berdakwah.

Kudus dan Gunung Muria: Ujian Fisik di Jawa Tengah

Masuk ke Jawa Tengah, Urutan Rute Ziarah Wali Songo dari Jawa Timur ke Jawa Barat akan membawa Anda ke Kabupaten Kudus. Siapkan betis beton Anda di sini. Destinasi pertama adalah Sunan Muria (Raden Umar Said) yang makamnya berada di puncak Gunung Muria.

Anda punya dua pilihan: jalan kaki menaiki ratusan anak tangga (hitung-hitung kardio) atau naik ojek warga lokal yang ngebutnya serasa sedang balapan MotoGP. Saran saya? Naik ojek untuk pengalaman memacu adrenalin, lalu turun jalan kaki untuk menikmati pemandangan.

Setelah turun gunung, mampirlah ke makam Sunan Kudus (Ja’far Shodiq) di kota. Ikon utamanya adalah Menara Kudus yang menyerupai candi Hindu. Ini adalah bukti nyata toleransi tingkat tinggi. Sunan Kudus bahkan melarang penyembelihan sapi untuk menghormati umat Hindu di wilayah tersebut kala itu. Sebuah pelajaran toleransi yang rasanya perlu kita viralkan lagi hari ini.

Demak: Sang Dalang di Kadilangu

Bergerak sedikit ke selatan dari Kudus, kita tiba di Demak, tepatnya di Kadilangu. Di sinilah tempat peristirahatan Sunan Kalijaga (Raden Sahid).

Sunan Kalijaga adalah wali yang paling “nyeni” dan luwes. Beliau menggunakan wayang kulit sebagai media dakwah. Makamnya tidak pernah sepi. Di sini, Anda akan merasakan nuansa kejawen yang berpadu harmonis dengan syariat Islam. Jangan lupa untuk mampir ke Masjid Agung Demak yang tiang utamanya (saka tatal) konon dibuat dari serpihan kayu yang disatukan oleh Sunan Kalijaga.

Garis Finis: Cirebon, Gerbang Jawa Barat

Perjalanan panjang ini berakhir di ujung timur Jawa Barat, yaitu Cirebon. Di sini bersemayam satu-satunya Wali Songo yang berada di tanah Sunda: Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah).

Arsitektur makam Sunan Gunung Jati sangat unik, penuh dengan ornamen keramik Tiongkok yang ditempel di dinding-dindingnya. Ini menunjukkan hubungan erat antara Kesultanan Cirebon dengan Dinasti Ming di masa lalu (ingat kisah Putri Ong Tien?).

Tips Kuliner: Setelah ziarah selesai, jangan langsung pulang. Rayakan selesainya misi spiritual ini dengan menyantap Nasi Jamblang atau Empal Gentong khas Cirebon. Perut kenyang, hati tenang.

Manajemen Waktu dan Logistik

Menempuh rute ini membutuhkan waktu minimal 3 hari 2 malam jika Anda menggunakan kendaraan pribadi dan ingin santai. Namun, jika mengikuti rombongan bus ziarah, biasanya jadwal akan sangat padat dan “kejar tayang”.

Penting untuk diingat bahwa jalur Pantura adalah jalur sibuk dengan banyak truk besar. Pastikan kondisi fisik dan kendaraan prima. Membawa uang receh dalam jumlah banyak juga sangat disarankan untuk sedekah atau membayar toilet umum dan penitipan sandal yang akan Anda temui di setiap titik henti.


Kesimpulan

Menjalani ziarah Wali Songo bukan sekadar mencentang daftar destinasi wisata. Ini adalah perjalanan menyelami akar identitas Islam Nusantara yang damai, toleran, dan berbudaya. Dengan mengikuti Urutan Rute Ziarah Wali Songo dari Jawa Timur ke Jawa Barat ini, Anda bisa mengefisienkan waktu tanpa mengurangi esensi spiritualnya.

Jadi, kapan Anda akan memulai perjalanan ini? Ingat, ziarah itu bukan tentang seberapa cepat Anda sampai di tujuan akhir, tapi seberapa banyak hikmah yang bisa Anda resapi di sepanjang jalan. Selamat berziarah!